Pengaruh Pemberian Spons Laut (Clathria sp.) terhadap Hitung Jenis Limfosit Mencit Balb/C yang Diinfeksi Plasmodium Berghei

  • Muhammad Zaky Ibadurrahman Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
  • E Hagni Wardoyo Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
  • Yunita Sabrina Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Abstract

Latar Belakang: Tingginya prevalensi malaria disebabkan karena kurangnya pengendalian vektor, kebiasaan masyarakat, bertambahnya daerah endemis dan peningkatan resistensi obat antimalaria. Resistensi obat malaria konvensional, seperti klorokuin, sulfadoksin/pirimetamin saat ini telah banyak dilaporkan sehingga mendorong usaha untuk mencari bahan antiplasmodium baru, khususnya menggunakan biota laut yang memiliki potensi tinggi untuk diteliti lebih lanjut. Spons Clathria sp adalah salah satu biota laut yang mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas antiplasmodium.

Metode: Penelitian eksperimental dengan pre-post test control group design Sejumlah 30 ekor mencit jantan galur Balb/C diinfeksi dengan Plasmodium berghei secara intraperitoneal. Sampel kemudian diagi menjadi 6 kelompok; 4 kelompok diberi ekstrak alkaloid Clathria sp dengan dosis masing-masing 50, 100, 150, 200mg/kgBB, 2 kelompok lainnya diberikan akuades 5ml (K-) dan klorokuin 5mg/kgBB selama 7 hari. Pada hari pertama dan terakhir dilakukan pengambilan darah tepi untuk pemeriksaan hitung jenis leukosit. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Oneway-Anova atau uji yang setara, kemudian dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD bila diperlukan.

Hasil: Hasil analisis statistik hitung jenis leukosit  menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif dengan nilai signifikansi p=0,003 (P1), p=0,017 (P2), p=0,030 (P3), dan p=0,001 (P4) (p<0,05) didapatkan pada hitung jenis limfosit.

Kesimpulan: Pemberian ekstrak Spons laut Clathria sp berpengaruh terhadap hitung jenis limfosit mencit yang Balb/C yang diinfeksi Plasmodium berghei.

References

1. Nizar, M. 2011. Diagnostik Klinik Malaria di Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan. Journal of Borne-Vector Studies. Vol.3, no.1 . [Diakses 12 Desember 2014]

2. Depkes RI, 2008. Pedoman Penatalaksana Kasus Malaria di Indonesia. Available from:http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Pedoman_Penatalaksana_Kasus_Malaria_di_Indonesia.pdf [Diakses tanggal 10 Maret 2015]

3. Zein, U. 2009. Perbandingan Efikasi Antimalaria Ekstrak Herba Sambiloto (Andrographis paniculata ness) Tunggal dan Kombinasi Masing-Masing dengan Artesunat dan Klorokuin pada Pasien Malaria Falsiparum Tanpa Komplikasi. Available from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7404/1/09E00226.pdf [Diakses tanggal 10 Maret 2015]

4. Harijanto, Paul. 2011. Eliminasi Malaria pada Era Desentralisasi. Available from: http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20 mALARIA.pdf [Diakses 9 Maret 2015]

5. Carrol, J and Jenna Arruda 2009. Uses Of Marine Compound. Available from: http://digitalcommons.calpoly.edu. [Diakses 09 September 2014].

6. Hadi, Surya dan Bremner, B, 2001. Initial Studies on Alkaloids from Lombok Medicinal Plants. Available at: http://core.kmi.open.ac.uk /display/ 5426002/ tab/citations [Diakses 18 September 2014]

7. Darlina, Rahardjo T. 2011. Perubahan Jenis Leukosit pada Mencit yang Diimunisasi dengan Plasmodium Berghei yang Diradiasi. Seminar Nasional SDM Teknologi Nuklir VII. Yogyakarta.

8. Sutedjo A.Y. 2013. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Amara Books: Yogyakarta

9. Eroschenko V.P. 2003. Atlas Histologi Di Fiore dengan Korelasi Fungsional. Edisi 09. EGC: Jakarta.
Published
2017-08-30
Section
Research

Most read articles by the same author(s)