Reaksi Hipersensitivitas pada Kulit Akibat Obat Anti Inflamasi Non Steroid

  • Dedianto Hidajat Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
  • Ni Luh Putu Novi Lindriati Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
  • Ni Wy Desi Purwaningsih Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Abstract

Seiring dengan hasil pengobatan yang semakin maju, kelangsungan hidup pasien yang lebih lama dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama, frekuensi dan durasi paparan terhadap obat-obatan telah meningkat. Konsekuensi yang dapat terjadi akibat meningkatnya paparan terhadap obatobatan yakni meningkatnya kejadian reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Kulit merupakan organ yang paling sering terlibat dalam reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Dari semua organ yang terkena, kulit paling sering terlibat dalam reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Sebagian besar reaksi hipersensitivitas obat pada kulit bersifat ringan, berupa erupsi makulopapular atau urtikaria. Adapun reaksi hipersensitivitas obat yang bersifat berat, yaitu pustulosis eksantematosa generalisata akut (PEGA), drug reaction with eosinophilia and systemic symptomps (DRESS), sindrom Stevens Johnson (SSJ), dan nekrolisis epidermal toksik (NET). Obat yang paling sering digunakan pada semua usia karena sifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasinya adalah OAINS. Obat AINS telah dilaporkan sebagai penyebab kedua dari reaksi hipersensitivitas obat setelah antibiotik beta-laktam. Di Indonesia, golongan OAINS yang diduga sebagai penyebab terbesar reaksi hipersensitivitas adalah parasetamol. Klasifikasi reaksi terhadap OAINS terdiri dari reaksi yang dimediasi secara imunologis (non reaksi silang) dan non imunologis (reaksi silang). Golongan OAINS bekerja pada metabolisme asam arakidonat, sehingga mempengaruhi keseimbangan antara leukotrien dan prostaglandin dengan menghambat produksi prostanoid. Mekanisme definitif hipersensitivitas OAINS belum jelas, tetapi kemungkinan bahwa blokade COX yang diinduksi OAINS menghasilkan produksi prostaglandin E2 yang berlebihan pada individu yang terpengaruh.

References

1. Hoetzenecker W, Nageli M, Mehra E, Jensen A, ¨Saulite I, Schmid-Grendelmeier P, et al. Adverse cutaneous drug eruptions: current understanding. In: Seminars in immunopathology. vol. 38. Springer; 2016. p. 75–86.

2. Demir S, Olgac M, Unal D, Gelincik A, Colakoglu B, Buyukozturk S. Evaluation of hypersensitivity reactions to nonsteroidal anti-inflammatory drugs according to the latest classification. Allergy. 2015;70(11):1461–1467.

3. Gomes ER, Geraldes L, Gaspar n, Malheiro D, Cadinha S, Abreu C, et al. Hypersensitivity Reactions to Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs among Adults: Clinical Features and Risk Factors for Diagnosis Confirmation. International Archives of Allergy and Immunology. 2016;171(3-4):269–275.

4. Inbaraj S, Muniappan M, Muthiah N, Arul Amutha GJI, et al. Pharmacovigilance of the cutaneous drug reactions in outpatients of dermatology department
at a tertiary care hospital. Journal of clinical and diagnostic research: JCDR. 2012;6(10):1688.

5. Sukandar EY, Hartini S, Rizkita P. Penyakit Kulit Terinduksi Obat pada Pasien di Bagian Penyakit Kulit di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung. Acta Pharmaceutica Indonesia. 2013;38(1):11–18.

6. Anggarini DR, Prakoeswa CRS. Penatalaksanaan Pasien Erupsi Obat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya: Studi Retrospektif. Periodical of Dermatology and Venereology. 2015;27(1):1–1. Available from: https://www.e-jurnal.com/2018/03/penatalaksanaan-pasien-erupsi-obat-di.html.

7. Wohrl S. NSAID hypersensitivity – recommendations for diagnostic work up and patient management. Allergo Journal International. 2018 Jun;27(4):114–121. Available from: https://doi.org/10.1007/s40629-018-0064-0.

8. R J, Bedwal A, Rajarathna K. Cutaneous adverse drug reactions from a teaching hospital in Bengaluru: An observational study to determine the spectrum and outcome. National Journal of Physiology, Pharmacy and Pharmacology. 2017;p. 1.

9. Jares EJ, Sanchez-Borges M, Cardona-Villa R, Ensi-´na LF, Arias-Cruz A, Gomez M, et al. Multinational ´experience with hypersensitivity drug reactions in Latin America. Annals of Allergy, Asthma & Immunology. 2014;113(3):282–289.

10. Farnam K, Chang C, Teuber S, Gershwin ME. Nonallergic Drug Hypersensitivity Reactions. International Archives of Allergy and Immunology.
2012;159(4):327–345.

11. B R, K SK, Rohini PM, V P. Case reportbaboon syndrome with paracetamol. International Journal of Basic & Clinical Pharmacology. 2018;7(10):2061.

12. Schneider JA, Cohen PR. Stevens-Johnson Syndrome and Toxic Epidermal Necrolysis: A Concise Review with a Comprehensive Summary of Therapeutic Interventions Emphasizing Supportive Measures. Advances in Therapy. 2017;34(6):1235–1244.

13. Feldmeyer L, Heidemeyer K, Yawalkar N. Acute Generalized Exanthematous Pustulosis: Pathogenesis, Genetic Background, Clinical Variants and Therapy. International Journal of Molecular Sciences. 2016;17(8):1214.

14. Choudhary S, McLeod M, Torchia D, Romanelli P. Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) Syndrome. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. 2013 Jun;6(6). Available from: https://jcadonline.com/drug-reaction-with-eosinophilia-and-systemic-symptoms-dress-syndrome/.

15. Guvenir H, Misirlioglu ED, Vezir E, Toyran M,Ginis T, Civelek E, et al. Nonsteroidal antiinflammatory drug hypersensitivity among children. Allergy and Asthma Proceedings. 2015 Jan;36(5):386–393.

16. Nissen CV, Bindslev-Jensen C, Mortz CG. Hypersensitivity to non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs): classification of a Danish patient cohort according to EAACI/ENDA guidelines. Clinical and Translational Allergy. 2015;5(1):10.
Published
2019-09-27
Section
Research