PROFIL ANEMIA BERDASARKAN INDEKS ERITROSIT PADA SISWA SMPN 2 KECAMATAN KHAYANGAN KABUPATEN LOMBOK UTARA

  • Moh. Arif Kurniawan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
  • Ima Arum Lestarini Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
  • Putu Aditya Wiguna Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Abstract

Latar belakang: Anemia adalah penurunan volume eritrosit atau kadar hemoglobin (Hb) hingga dibawah rentang yang berlaku untuk orang sehat. Peningkatan atau penurunan kejadian anemia pada suatu daerah dapat dipengaruhi oleh kondisi demografi dan geografis suatu daerah. Kecamatan Kayangan memiliki kondisi geografis berupa dataran tinggi dan pantai. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. SMPN 2 Kayangan merupakan salah satu sekolah tingkat menengah pertama yang berlokasi di Kecamatan Kayangan, yang mayorits siswanya tingg al di daerah dataran tinggi dan perkebunan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil anemia berdasarkan indeks eritrosit yang paling banyak terjadi pada siswa SMPN 2 Kayangan. Metode: Rancangan penelitian ini mengunakan studi cross sectional. Teknik pengambilan sampel mengunakan sistem total samplingdari 222 siswa, namun responden yang memuhi kriteria inklusi sebanyak 196 siswa dan data diolah dengan metode analisis univariat. Hasil : Dari 196 responden, 24 (12,2%) siswa dinyatakan anemia berdasarkan nilai patokan Hb populasi (12,97 gr/dl±1,05), anemia paling banyak pada kelompok usia 13-14 tahun sebanyak 15 (62,5%) siswa, berjenis kelamin perempuan sebanyak 15 (62,5%) siswa, dengan status IMT < 18,5 sebanyak 16 (66,7%) siswa. Berdasarkan indeks eritrositnya, kejadian anemia mikrositik hipokromik sebanyak 15 (62,5%) siswa, anemia normositik hipokromik sebanyak 7 (29,2%) siswa dan anemia normositik normokromik sebanyak 2 (8,3%) siswa. Kesimpulan: anemia terbanyak adalah anemia mikrositik hipokromik sebanyak 15 (62,5%) siswa, diikuti anemia normositik hipokromik sebanyak 7 (29,2%) siswa dan anemia normositik normokromik sebanyak 2 (8,3%) siswa, dengan nilai rerata Hb12,97 gr/dl ±1,05. Kejadian anemia didominasi oleh kelompok usia 13-14 tahun berjenis kelamin perempuan dengan IMT < 18,5. Kata kunci: anemia, indeks eritrosit, siswa SMP

References

1. Nelson WE. Nelson ilmu kesehatan anak (Nelson textbook of pediatrics). 15th ed.Jakarta: EGC; 2000.

2. WHO. Worldwide prevalence of anemia 1993-2005. WHO Global Database on Anemia; 2008.

3. Permaesih D. & Herman, S. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anemia pada Remaja. Buletin Penelitian Kesehatan. 2005;33(4): 162-167.

4. Sudoyo AW. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II. Jakarta: Departemen IPD Fakultas Kedokteran UI; 2008.

5. Gunatmaningsih D. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA Negeri 1 Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes tahun 2007. Semarang: Universitas Negeri Semarang; 2007.

6. Guyton & Hall. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11. Jakarta: EGC; 2008. 7. Kemenkes RI. Pedoman interprestasi data klinik. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2011.

8. Panigrahi A, & Sahoo P. Nutritional anemia and it’s epidemiological correlates among women of reproductive age in an Urban Slum of Bhubaneswar, Orissa. Indian Journal of Public Health. 2011;55 (4):317-323.

9. Muwakhidah. Efek suplementasi fe, asam folat dan vitamin b12 terhadap peningkatan kadar Hemoglobin (Hb) pada Pekerja Wanita. Semarang: Universitas Diponegoro; 2009.
Published
2017-10-26
Section
Research